Home Batik Macam-Macam Motif Batik yang Paling Populer di Indonesia

Macam-Macam Motif Batik yang Paling Populer di Indonesia

909
3
SHARE
motif batik indonesia

MOTIF BATIK INDONESIA – Batik di Indonesia penuh dengan keragaman latar belakang sejarah dan budaya dari daerah-daerah di Indonesia. Tiap batik dari daerah yang berbeda tidak bisa dibandingkan keindahannya sebab masing-masing memiliki kekayaan motif yang unik dan khas sehingga para pecinta batik dapat mengatakan ciri-ciri suatu motif hanya dengan melihat sekilas.

Keunikan dan keindahan karya batik rakyat, terutama yang telah berkembang di Jawa yang harus digali terus, semakin memperkaya keanekaragaman batik Indonesia.

Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur dikenal dengan keanekaragaman batik, misalnya batik garutan, batik pacitan, batik tuban, batik lasem, batik pati, batik kudus, batik demak, batik semarang, batik batang, batik pekalongan, batik tegal, batik brebes, batik cirebon, batik indramayu, batik slawi, batik banjarnegara, batik sokaraja, batik banyumas, batik kebumen, batik purworejo, batik imogiri, batik bantulan, batik bayat, batik solo, sragen, wonogiri, sukoharjo, tulungagung dan sidoarjo.

Berdasarkan temuan batik-batik itu, maka motif batik dari sisi geografi dibagi menjadi dua, yaitu motif batik pesisir dan motif batik non pesisir (batik keraton). Batik nonpesisir adalah batik tradisional yang umumnya masih memegang pakem, yang sampai saat ini masih bisa dijumpai di daerah Solo dan Yogyakarta.

Dahulu batik-batik ini kebanyakan dipakai oleh kalangan terbatas (kerabat keraton) dengan corak yang ditentukan. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan harus bermotif sidomukti dan/atau sidoluhur.

Sedangkan untuk acara mitoni (7 bulanan), kain batik yang boleh digunakan adalah bermotif batik ceplok garuda dan/atau motif batik parang mangkoro, begitu seterusnya untuk acara-acara upacara adat yang lain.

Motif batik pesisir memiliki kebebasan berekspresi dengan corak-corak yang tidak memiliki pakem, umumnya berwarna cerah/berani dengan motif yang sangat kaya dan cantik. Motif batik pesisir ini telah berakulturasi dengan budaya asing.

Misalnya, motif bunga-bunga dipengaruhi oleh India dan Eropa (bunga tulip), serta warna merah dan motif burung phoenix, kupu-kupu, dan lain-lain dipengaruhi oleh Cina.

Motif hewan laut (kerang, bintang laut) adalah motif asli batik tulis pesisir nusantara.Batik pesisir ini dapat kita temui di daerah-daerah Pekalongan, Cirebon, Lasem, Tuban, dan Madura.

Dalam perkembangannya, ditemukan macam-macam batik di daerah yang bukan dikategorikan sebagai batik pesisir maupun nonpesisir, yaitu batik yang dibuat di daerah-daerah yang meiliki kekhasan tersendiri. Daerah tersebut bukan terletak di wilayah pantai pesisir), misalnya batik bantulan, batik imogiri, batik bayat, batik purworejo, batik madiun, dan batik dari wilayah-wilayah lainnya.

Batik-batik tersebut umumnya bercorak seperti batikpesisir, yaitu menggunakan warna-warna cerah dengan motif yang lebih beragam, seperti motif tumbuhan, hewan, kapal, dan sebagainya.

Sementara itu dengan meningkatnya minat akan batik, banyak pula batik yang diciptakan secara individu, baik oleh seniman,pengrajin, atau pun perusahaan yang memiliki minat atas batik. Misalnya, batik bola, batik motif mobil, dan kreasi pribadi lainnya. Barikut ini kita akan membahas 6 motif batik yang paling populer di Indonesia versi fatinia.com

1. Motif Batik Keraton

motif batik keraton
motif batik keraton

Batik keraton ditemukan di Yogyakarta dan Solo. Motif batik keraton memiliki arti filosofis dan sarat akan makna kehidupan. Gmbarnya rumit dan halus, serta hanya memiliki beberapa warna, misalnya warna biru, kuning muda, atau putih.

Motif batik keraton kuno seperti pola panji (abad ke-14), gringsing (abad 14), kawung yang diciptakan Sultan Agung (1613-1645), dan parang, serta motif anyaman seperti tirta teja.

Motif batik yang diperuntukkan bagi raja dan keturunannya di lingkungan istana memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, motif lereng atau parang merupakan ciri khas batik mataram. Sejarahnya dimulai dari berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh penembahan senopati.

Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Pajang ke Mataram, beliau sering melakukan tapa brata di sepanjang Pesisir Selatan, menyisir Pantai Parangkusuma ke Dlepih Parang Gupita.

Sang raja menelusuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti pereng atau tebing berbaris. Sebagai seorang yang menguasai seni, tempat pengembaraan ini mengilhami karya cipta motif batik lereng atau parang. Karena penciptanya adalah pendiri Mataram, maka hak eksklusif diberikan hanya bagi raja dan keturunannya.

Rakyat dilarang menggunakan motif ini. Larangan ini awalnya dicanangkan oleh Sri Sultan HB I pada tahun 1785, yang antara lain termasuk kain motif batik parang rusak barong.

Terakhir, Sri Sultan HB VIII menetapkan revisi larangan dengan membuat Pranatan Dalem bab Namanipun Pengangge Keprabon ing Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dimuat dalam Rijksblad van Djokjakarta No. 19 tahun 1972.

Pranatan ini sampai sekarang tidak diperbaharui, tetapi menjadi semacam pranatan tertulis dan kemudian menjadi tradisi di lingkungan keraton.

2. Motif Batik Burung Huk

Bentuk dasar ragam hiasnya adalah seekor anak burung yang baru menetas, menggeleparkan kedua sayapnya yang masih lemah, berusaha lepas dari cangkang telurnya. Separuh badan dan kedua kakinya masih berada dalam cangkang.

Ide dasarnya ialah pandangan hidup tentang “kemana jiwa manusia sesudah mati”. Disebut motif atau ragam hias karena perwujudannya tidak pernah berdiri sendiri. Pada kain batik, corak batik tersebut selalu berada dalam susunan estetis bersama motif dan pola yang lain.

Misalnya, sebagai ceplokan dengan latar gringsing, sebagai selingan motif parang, dalam bentuk mozaik dengan beberapa motif lain, atau berbaur dengan pola nitik.

Diceritakan, konon pada permulaan era Islam di Jawa, ada seorang seniman yang ingin mendapatkan “kemana manusia sesudah mati”. Di dalam diri si seniman tersebut masih merambat akar-akar budaya Hindu, sementara ajaran Islam mulai mempengaruhi pandangan hidupnya.

Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya, si seniman melakukan meditasi zikir dan kontemplasi.

Dalam khusuknya berzikir, ia menyebut asma Allah (Allah Huk Akbar, Allah maha Besar), dan ketika hanya tertinggal satu kata “Huk” dari mulutnya (dalam puncak zikirnya), dia melihat seekor burung yang baru mulai menetas, menggeleparkan sayapnya yang masih lemah, berusaha melepaskan diri dari cangkangnya, namun kakinya masih tetap berada di dalam telur.

Ketika terbangun dari meditasinya,ia lalu merenung dan membuat kesimpulan, bahwa mati itu hanya kerusakan raga, namun jiwanya tetap hidup entah terbang kemana, mungkin mencari raga yang baru atau mungkin mencari Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

Dari kejadian tersebut, terciptalah bentuk seni yang dinamai burung “Huk”.

Kaki anak burung yang masih ada dalam telur, masih menginjak bumi, adalah sebagai simbol bahwa kesimpulan yang dibuatnya sesungguhnya masih meragukan dirinya, sebab kesimpulan itu adalah tentang perjalanan manusia sesudah mati, sedangkan dia yang membuat kesimpulan itu adalah manusia biasa yang masih hidup, masih menginjak bumi.

3. Motif Batik Gurda (Burung Garuda)

motif batik gurda
motif batik gurda

Bentuk dasar motif batik ini adalah seekor burung garuda yang dilihat tepat dari belakang sehingga kepala burung tidak tampak, dideformasi dan distilisasi untuk keindahan dan toleransi terhadap ajaran Islami. Motif batik gurda merupakan motif khas batik yang paling banyak dikenal.

Bentuk simbolik gurda diilhami oleh mitos Hinduisme, yaitu burung garuda kendaraan Dewa Wisnu, Sang Pemelihara Yang Bijaksana, namun ditampilkan dengan nuansa Islami (bentuk makhluk hidup yang ditampilkan dengan cara disamarkan).

Bentuk dasarnya terdiri dari tiga hal. Yang pertama adalah sepasang sayap mengembang yang ditata sama dan simetris.

Masing-masing sayap bersap dua sampai lima, tiap bulunya diisi dengan isen-isen sawut. Yang kedua adalah ekor burung yang juga sedang mengembang, bulu ekornya berjumlah ganjil, tida sampai tujuh helai, diisi dengan isen-isen sawut, tersusun seperti bentuk kerucut secara vertikal.

Yang ketiga adalah bentuk abstraktif-simbolik dari isi raga burung atau manusia, yang digambarkan seperti garis kontur bersap-sap, terletak di bawah ekor, simbol dari isi kepala, tembolok, isi perut burung, organ seks, hingga dubur sebagai alat pembuangan.

Terdapat bentuk simbolik dari konsep sembilan lorong energi manusia yang biasa disebut hawa sanga (nawa sanga). 

Semua itu dideformasi dan distilisasi untuk keindahan. Jadi sebenarnya rincian burung ini relatif komplit, hanya pengejawantahannya disesuaikan dengan ajaran Islam yang melarang menggambarkan makhluk bernyawa. Secara keseluruhan, bentuk garuda merupakan simbol keperkasaan, ketabahan, dan sikap melindungi yang dilandasi kebijaksanaan.

4. Motif  Batik Kawung

motif batik kawung
motif batik kawung

Motif batik kawung merupakan bentuk yang ditiru dari biji kawung, yakni biji buah siwalan atau buah pohon tal yang dibelah melintang.

Bentuk pola kawung adalah babon atau induk dari bentuk estetis kawung, yaitu bentuk yang paling mirip dengan biji buah pohon enau atau pohon tal, sehingga disebut kawung saja.

Ide dasar motif batik kawung adalah simbolisasi dari konsep “pancapat”. Pelahiran bentuk simboliknya bersifat filosofis. Bentuk simbolik tersebut disusun dari bentuk dasar dan tekstur-tekstur sederhana, yang selalu melambangkan jumlah empat (empat bentuk yang sama), dan satu bentuk kelima (berbentuk lain) sebagai pusat atau intinya.

Pancapat merupakan kehidupan, peraturan kenegaraan, politik, ekonomi, dan lain-lain.

Motif batik kawung yang bentuk kawungnya agak membulat seperti bentuk tubuh Kyai Semar disebut juga kawung semar. Dalam pewayangan sering dipakai oleh Kyai Semar Badranaya. Sering juga disebut kawung kentang karena ukuran setiap bentuknya sebesar umbi kentang lokal.

Pola kawung yang sederhana ini didominasi warna putih, kontras dengan garis berwarna gelap yang membingkai motifnya hingga mampu menampilkan keagungan dan kesederhanaan.

Motif batik kawung yang sarat makna pandangan hidup tersebut termasuk pola batik larangan, bahkan ada yang disakralkan agar orang senantiasa menghormati maknanya. Kawung ini termasuk pola geometris, bentuk bujur sangkar, selalu disusun dari empat bentuk yang sama dalam susunan simetris.

Pada kain batik dengan ukuran 105 cm x 250 cm terpeta kurang lebih 250 motif kawung semar atau kira-kira seribu buah oval bentuk kawung, dan berkembang menjadi berbagai macam jenis kawung yang begitu banyak jumlahnya, beberapa di antaranya :

1. Kawung Kempalang, dengan ukuran sebesar kawung kentang dengan variasi isen-isen pada bentuk ke-limanya untuk lebih memperindah tampilannya. Kawung kemplang ini pernah disakralkan, yakni dipakai untukpersembahan pada upacara labuhan.

Kawung kemplang dalam bahasa Jawa ngemplang berarti tak dapat membayar hutang) menyadarkan manusia bahwa dengan cara apapun hingga akhir hidupnya, manusia tidak dapat membalas budi hingga impas segala kebaikan budi dari alam yang telah memberinya lahan kehidupan, dengan air, api, bumi, udara, dan energi, meskipun semua itu atas perkenan Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi.

2. Kawung Picis, kawung yang diiris-iris sehingga bentuknya menjadi kecil-kecil. Motif batik ini sebenarnya sudah  sangat tua. Sejak 2.000 tahun sebelum Masehi, motif batik ini sudah tampil dalam masyarakat Jawa, tetapi baru divisualisasikan pada batik dan dinamai kawung picis sesudah ditemukan alat canting tulis.

Kawung Picis mengandung makna bahwa kepedihan/kesusahan itu sudah menjadi ciri lelakon hidup manusia, yang sebenarnya selalu imbang dengan rasa senangnya, namun yang lebih dirasakan adalah kesusahannya.

3. Kawung Geger Sekurung, berbentuk unik, seolah gambang kawung pada kaca berlapis-lapis, terdiri dari  beberapa jenis kawung. Pola ini menggambarkan peristiwa konflik politis di antara keluarga yang membuat geger dan membingungkan rakyat kecil.

5. Motif Batik Parang dan Lereng

Motif batik parang dan lereng
Motif batik parang dan lereng

Kedua jenis pola ini memliki ratusan variasi yang beberapa nama dan maknanya belum disosialisasikan. Terdapat persamaan dan perbedaan pada kedua jenis pola ini. Persamaannya, keduanya merupakan pola geometris dengan bentuk belah ketupat. Susunan motifnya merupakan garis lurus miring tegas 45 derajat.

Perbedaanya, motif batik parang terdapat bentuk estetis yang disebut parang, sedang pada motif batik lereng bentuk parangnya tidak dijumpai.

Secara umum, pola berstruktur garis miring merupakan simbol pandangan hidup, bahwa perjalanan hidupnya, setiap manusia pasti pernah mendapat cobaan. Untuk merunut jalan Ilahi, manusia harus mendaki jalan berbatu-batu yang tegas menuju ke atas. Perlu iman ketabahan untuk sampai ke tujuan.

6. Motif Parang Rusak Barong

Motif parang rusak
Motif parang rusak

Ide dasarnya adalah filosofi atau pandangan hidup seniman penciptanya, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai seorang raja dengan segala kewajibannya dan kesadarannya sebagai seorang manusiaa yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.

Hal ini diejawantahkan secara estetis dalam bentuk dan simbol-simbol berdasarkan pengalaman dan penginderaan di alam sekitarnya, dengan personifikasi manusia dalam bentuk burung besar semacam garuda atau rajawali yang berdiri di atas tebing berbatu (dalam bahasa Jawa disebut parang). Di bawah tebing (parang), ombak laut susul-menyusul menerpa tebing.

Bentuk-bentuk tersebut dideformasi dan distilisasi untuk keindahan dan demi toleransi terhadap pandangan atau ajaran agama Islam, yang melarang penggambaran makhluk bernyawa.

Pola ini pernah menjadi pola larangan (larangan utama), hanya boleh dipakai oleh raja, permaisuri, dan putera-puteri raja yang telah dewasa, serta Pepatih Dalem.

Motif batik ini merupakan pola geometris dengan bentuk belah ketupat. Keseluruhan bentuk pada media kain menampakkkan pola batik bergaris miring tegas, empat pulih lima derajat. Pola parang rusak barong merupakan induk dari semua pola parang.

Kata parang dalam bahasa Jawa dapat juga berarti musuh dalam peperangan (parang muka). Perang juga dapat diartikan perang batin yang senantiasa dialami oleh orang dewasa.

Dalam hal perang fisik, yang terpaksa sering dilakukannya pada masa peerintahannya, sebagai seniman, Sultan Agung menyampirkan pesan bahwa meskipun perang kadang-kadang harus dilakoni, perang fisik itu merusak, dan setiap pemimpin yang memakai kain batik dengan pola tersebut diingatkan untuk sngat berhati-hati menerapkan kebijakan represif atau perang.

Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan halini tercermin pula pada besarnya ukuran tinggi (vertikal) motif tersebut pada kain, yakni antara 18 cm hingga 24 cm dan ukuran lebarnya 6 cm hingga 8 cm. Pada media kain berukuran 110x260cm, dapat dituangkan kira-kira 200 buah motif yang sama, yang disusun secara jungkir balik.

Bentuk dasar pola parang rusak barong adalah sebagai berikut :

1. Bentuk barong merupakan deformasi dari bentuk burung besar garuda sejenis rajawali, simbol dari Wong Agung.

Secara estetis terdiri dari :

Kepala burung. Mengandung makna intelektualitas/kecerdasan.

Lidah burung, sebagai manifestasi dari isi mulut (paruh) dilukiskan sebagai lidah api. Ucapannya dapat membakar orang banyak. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus sangat berhati-hati dalam berucap dan berwacana.

Tuding (menunjuk dengan jari), yaitu bentuk seperti jari telunjuk yang membingkai bentuk uceng. Mengandung makna bahwa tudingan seorang pemimpin akan sangat menentukan nasib orang banyak.

Badan burung yang dideformasi secara sederhana. Mengandung makna kekuatan fisik/kesehatan sangat diperlukan bagi seorang pemimpin. Sayap mengandung makna kemampuan beraktivitas dan mobilitas yang sangat diperlukan bagi seorang pemimpin.

Masing-masing bentuk tersebut dibingkai garis kontur (dalam perbatikan disebut sawut) berwarna cokelat soga, bermakna spirit.

2. Bentuk Parang, sesungguhnya merupakan deformasi dari beberapa bentuk seperti :

Bentuk ombak laut yang susul-menyusul menerpa terbing tempat burung bertengger, mengandung arti bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang serba mulus. Semuanya pasti mengalami gangguan, cobaan, atau ujian. Bila dihadapi dengan sabar dan bijak, justru akan mendatangkan ketegaran. Semua keberhasilan harus melalui pengorbanan lahir dan batin.

Bentuk pusaran air di antara ombak, yang distilisasi menjadi bentuk permata. Bentuk ini dalam “dunia pembatik” biasa disebut mlijon, bermakna bahwa perjuangan sebagai pemimpin seperti berjuang di dalam pusaran air, bila berhasil, seolah menemukan permata dalam hidupnya. Akan tetapi,kesuksesan, keperkasaan, kadang-kadang memabukkan ibarat terlena di atas pusaran air yang telah menjadi permata, nikmat namun bisa membahayakan.

Loading...
Loading...

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here