Home Batik Mengungkap Bagaimana Sejarah Batik di Indonesia Bermula

Mengungkap Bagaimana Sejarah Batik di Indonesia Bermula

574
0
SHARE
Motif batik indonesia

SEJARAH BATIK – Di Indonesia, batik sudah ada sejak zaman Majapahit dan sangat populer pada abad XVIII atau awal abad XIX. Sampai abad XX, semua batik yang dihasilkan adalah batik tulis. Kemudian setelah perang dunia I, batik cap baru dikenal.

Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa tidaklah tercatat. G.P Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7. Sehubungan dengan hal ini, Amir Yahya berpendapat bahwa masih banyak kesimpangsiuran mengenai asal batik Indonesia, yang diperkirakan berasal dari daratan India khususnya di sekitar pantai Koromandel dan Madura, sebab di sana sudah dikenal teknik tutup-celup ini sejak beberapa abad sebelum Masehi.

Pendapat ini belum meyakinkan karena teknik batik tutup-celup yang digunakan India berbeda dengan di Jawa. Keduanya memang menggunakan jenis alat yang hampir sama bentuknya,misalnya di India menggunakan sejenis kuas atau jagul dan di Jawa pun demikian. Akan tetapi, kalau dilihat dari segi penutupnya, jelas dua bentuk karya seni itu tidak ada hubungannya sama sekali. Batik di Jawa menggunakan bahan lilin (wax) untuk menutup dan ramuan dedaunan, seperti nila dan soga, untuk pewarnaan.

Di samping itu, teknik pewarnaan dengan celupan dan rendaman pun berbeda. Batik di India menggunakan teknik tutup dengan jenangan kanji atau beras ketan, sehingga teknik pewarnaannya pasti berbeda dengan yang ada di Jawa. Teknik rendam atau celup jelas tidak dapat dilaksanakan mengingat bahan kanji akan luntur jika mengalami perendaman selama beberapa jam atau hari.

Amir Yahya menambahkan bahwa sebagian ahli berpendapat bahwa batik berasal dari daratan Cina. Kesaksian ini diperkuat dengan ditemukannya jenis batik dengan teknik tutup-celup sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi. Batik yang ditemukan tersebut menggunakan warna biru dan putih saja,dan sudah menggunakan teknik yang baik. Akan tetapi, artefak ini belum dapat memberikan kesaksian yang murni dan dapat dipercaya karena terdapat perbedaan alat serta bahan yang digunakan.

Dalam ensiklopedia Indonesia disebutkan, teknik batik diduga berasal dari India. Jadi, diduga teknik ini dibawa oleh bangsa Hindu ke Jawa. Sebaliknya sebelum kedatangan bangsa Hindu, teknik ini telah dikenal di Indonesia. Misalnya oleh suku Toraja di Sulawesi Tengah. Mereka memakai hiasan-hiasan geometris yang juga terdapat pada batik-batik tua dari priangan (simbut). Pada pembuatan simbut, ketan digunakan sebagai pengganti lilin. Sedangkan sebilah bambu digunakan sebagai canting.

Di bagian timur Indonesia, teknik batik digunakan untuk menganyam tudung-tudung dari pandan atau bahan lainnya. Asal mula batik tidak dapat dipastikan, tetapi perkembangan batik yang begitu pesat tidak terdapat di mana pun juga selain di Indonesia.

Banyak daerah pusat perbatikan di Jawa adalah wilayah santri. Di daerah ini, batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia. Memang pada awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton. Hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga, serta para pengikutnya. Batik yang masuk kalangan istana diklaim sebagai milik dalam benteng, orang lain tidak boleh mempergunakannya.

Sebagai contoh,peraturan yang dikemukakan oelh Sri Susuhunan Pakubuwono III yang tertera pada tahun 1769 berbunyi sebagai berikut : “Ana dene kang arupa jejarit kang kelebu ing larangan ingsun: batik sawat lan batik parang rusak, batik cumangkiri kang calacap, madang, bangun-tulak, lenga-teleng, daragem lan tumpal. Anadene batik cumangkirang ingkang acalacap lung-lungan utawa kekembangan, ingkang ingsun kawenangaken anganggoha pepatih ingsun lan sentanaingsun, kawulaning wedana”. 

Hal inilah yang menyebabkan kekuasaan raja serta pola tata laku masyarakat dipakai sebagai landasan penciptaan batik. Akhirnya, didapat konsepsi pengertian bahwa adanya batik klasik dan batik tradisional. Penentuan aturan klasik adalah hak preogratif raja.

Walapun ada larangan pemakaian batik motif tertentu, kerajaan juga memberikan sugesti tinggi terhadap pemakaian sinjangan batik. Misalnya, raden Wijaya menganugerahkan kain batik bermotif lancingan gringsing kepada punggawa terkemuka sebagai tanda derajat kepadanya, yaitu derajat Senopati Agung.Istilah ini dihubungkan dengan perang mati-matian.

Kharisma raja dengan anugerah tersebut dapat memberikan semangat keprawiraan yang tinggi. Dan di lain pihak, semangat tersebut merupakan dorongan yang kuat untuk mengorbankan jiwa dan raga.

Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini mereka bawa keluar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing. Akhirnya,kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari oelh wanita dan pria. Bahan kain putih yang digunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sementara itu, bahan-bahan pewarna yang dipakai dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri, antara lain pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Bahan kainnya umumnya berupa mori, sutra, katun, atau pun media lainnya.

Bahan lain yang biasanya digunakan adalah malam atau lilin lebah. Dalam ensiklopedia Indonesia disebutkan bahwa malam adalah hasil sekresi dari lebah madu dan jenis lebah lainnya untuk keperluan tertentu tidak dapat digantikan dengan lilin buatan.

Pada awal keberadaannya,motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bermakna, yang bernuansa tradisional Jawa, Islami, Hinduisme, dan Budhisme. Dalam perkembangannya, batik diperkaya oleh nuansa budaya lain seperti Cina dan Eropa modern.

Perkembangan batik dipengaruhi oleh Hinduisme, misalnya pada motif batik kawung. Secara spesifik, Amir Yahya memandang bahwa sekilas memang ada hubungan antara motif batik kawung yang dipakai oleh patung-patung Hindu pada sinjangan. Jika kita mau menerawang lebih jauh, mestinya motif ituu dipergunakan lebih dahulu pada sinjangan sebelum dipahatkan pada patung.

Memang pada dasarnya jiwa batik adalah kelembutan, kedamaian, dan toleransi. Jiwa batik bersedia membuka pintu bagi masuknya kebudayaan-kebudayaan lain yang justru memperkaya pernak-pernik dalam kehidupannya. Itulah yang merupakan kedigdayaan budaya batik sehingga mampu bertahan hidup dan berkembang hingga rambahannya secara signifikan menembus batas-batas kedaerahan, menjadi identitas nasional, dan menjadi bagian dari budaya dunia.

Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada masa silam, seni batik bukan sekedar melatih ketrampilan melukis dan sungging. Seni batik sesungguhnya sarat akan pendidikan etika dan estetika bagi wanita zaman dahulu. Selain itu, batik pun punya makna untuk menandai peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa. Misalnya, motif batik corak truntum cocok untuk upacara ijab atau midodareni.

Sementara itu, motif batik grompol, motif batik semen rama, dan motif batik nagasari cocok untuk pernikahan. Namun juga ada semacam larangan mengenakan kain motif batikparang rusak, agar terhindar daripernikahan yang rusak. Dengan menggunakan kain motif batik sidoluhur atau sidomukti, para orang tua berharap anaknya nanti menjadi orang terpandang.

Nyai Kushardjanti mengungkapkan bahwa seni batik menjadi salah satu contoh bukti dari kebenaran konsep Tro Kon, yakni teori tentang pengembangan budaya seperti yang diutarakan Ki Hadjar Dewantoro bahwa pengembangan budaya yang berkesinambungan harus keterbukaan terhadap budaya lain demi kesinambungan budaya itu sendiri dan agar menyatu dengan budaya dunia, namun tetap harus konsentris pada budaya tradisionalnya, agar tetap memiliki kepribadian di tengah-tengah budaya dunia.

Senada dengan hal itu, Josephine Komara, pendiri Bin House (dalam mandala-magazine.com) yang merupakan salah satu penghasil batik terbaik dengan gerai toko yang tersebar sampai ke Singapura dan Jepang, menandaskan, “Batik, yang dihasilkan di Indonesia, hanya dapat dihasilkan di Indonesia.”

Kecintaan budaya batik terhadap kebinekaan merupakan refleksi dari sikap budaya masyarakat Mataram-Surakarta-Yogyakarta. Di dalam budaya batik, hal tersebut tampak pada pola-pola yang disusun dengan “seni mozaik” yang indah dari berbagai pola yang menampilkan ebinekaan budaya, seperti pola-pola caplokan, tambal, dan sekar jagad.

Meski dalam hal bentuk, fungsi, dan makna batik dapat dipilah-pilah, namun akan terasa pincang bila membedah makna kreasi seni batik tanpa membedah juga bentuk-bentuk simbolisnya. Dengankaidah seni, bentuk itu menjadimotif atau pola-pola yang bermakna simbolis filosofis.

Simbol adalah kreasi manusia untuk mengejawantahkan ekspresi dan gejala-gejala alam dengan bentuk-bentuk bermakna, yang artinya dapat dipahami dan disetujui oleh masyarakat tertentu. Manusia tidak dapat berkomunikasi dengan manusia lainnya tanpa simbol-simbol karena manusia sebagai makhluk budaya tidak dapat mengekespresikan jalan pikiran atau penalarannya.

Motif batik tradisional dikatakan sebagai kreasi seni,dan masyarakat luas mengakuinya. Nyi Kushadjanti mengatakan bahwa karya seni merupakan simpulan dari berbagai ajaran tentang seni zaman Yunani Kuno hingga masa kini. Karya seni adalah suatu kreasi yang melibatkan cipta, rasa, dan karsa manusia, merupakan pengejawantahan dari ekspresi manusia menyangkut rasa, emosi, cita-cita, harapan, gagasan, khayalan, serta pengalamannya, yang divisualisasikan pada suatu media, dengan keterampilan dalam bentuk-bentuk berstruktur yang merupakan satu kesatuan yang organis, dengan menggunakan media indrawi, sehingga dapat ditangkap dan ditanggapi oleh indera manusia sebagai suatu yang bermakna bagi pencipta dan pengamatnya. Dalam hal batik tradisional, medianya adalah kain.

Sementara itu,konsep filsafat yang diterapkan adalah filsafat sebagai seni bertanya diri, yaitu usaha manusia untuk memperoleh pengertian dan pengetahuan tentang hidup menyeluruh dengan mempergunakan kemampuan rasa dan karsanya.

Di dalam ilmu tentang keindahan seni (estetika), ide pelahiran bentuk-bentuk dalam seni rupa adalah naturalis, intuitif, abstrak, abstraktif, arsitektoris, figuratif, dan filosofis (Raharjo, 1986, dalam Haruisman, 2001:137). Pelahiran bentuk pola/motif batik tradisional yang termasuk seni rupa dwimatra yang bentuk-bentuknya terbina dari unsur titik, garis, dan bidang. Ciri-cirinya antara lain adalah bentuknya abstrak, yakni bentuk natural (alami) ke bentuk deformatif dengan teknik distorsi atau stilisasi.

Selain itu, ada juga bentuk figuratif yang perubahannya disesuaikan dengan konsep-konsep dan pandangan hidup seseorang atau bangsa. Konsepsi bangsa timur, termasuk Indonesia menghendaki simbolisme. Yang terakhir, bentuk filosofis yang merupakan bentuk-bentuk simbolis yang diciptakan atas dasar falsafah manusia yang bersifat kosmologismaupun falsafah kehidupan.

Menurut Amri Yahya,batik dalam konsepsi kejawen lebih banyak berisikan konsepsi-konsepsi spiritual yang terwujud dalam bentuk simbolika filosofis. Maksudnya erat dengan makna-makna yang simbolis,misalnya adalah motif gurda pada batik klasik atau tradisional. Sinjangan (kain panjang) yang bermotif gurda ini sebenarnya bermula daribentuk burung garuda.

Burung ini telah dipakai sebagai lambang pada masa purna Indonesia. Hal ini muncul pada panji-panji sebagai lambang kendaraan menuju surga, misalnya pada candi-candi Dieang. Sedangkan pada perkembangan Hindu selanjutnya, terutama di Jawa Timur, burung garuda merupakan kendaraan dewa. Lalu, dapat disimpulkan bahwa motif batik gurda atau garuda ini pada masa lalu digunakan oleh para priyagung keraton. Motif batik gurda ini berubah menjadi bentuk sayap atau lar saat Islam masuk. Komposisi pengaturan dalam penebaran pada sinjangan pun semakin terlihat bagus.

Pada pertengahan abad ke-17, di era Sultan Agung Hanyakrakusuma, bentuk-bentuk motif batik diejawantahkan dengan cara yang sederhana dan dengan ukuran yang relatif besar karena pada waktu itu belum ditemukan canting tulis, sebuah alat sederhana yang digunakan untuk menorehkan lilin cair untuk mengekspresikan bentuk-bentuk yang rumit, kecil, dan indah.

Awalnya, motif batik barong, motif batik kawung, dan motif batik tunggak semi ditampilkan dengan jegul kecil, semacam kuas yang dibuat dari benang. Seni dekorasi kain tersebut disebut batik, yang artinya menggambar hingga sekecil-kecilnya atau titik-titik. dalam bahasa Jawa alus, membatik juga disebut nyerat/menulis sebab pada zaman dahulu huruf masih merupakan gambar.

Usaha pengembangan seni batik dan penyebaran tekniknya dilakukan melalui perdagangan yang dilakukan bangsa Portugal pada tahun 1519 dan Belanda di tahun 1603 ke seluruh pelosok nusantara. Maka tak heran jika pada abad XVII dan XVIII banyak wanita di Aceh dan Maluku menggunakan sinjangan yang berasal dari Jawa. Inilah yang menyebabkan kaburnya titik pijak dari mana asal batik itu.

 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here