Home Pengetahuan Sejarah Hajar Aswad dan Misteri di Balik Keberadaannya

Sejarah Hajar Aswad dan Misteri di Balik Keberadaannya

162
0
SHARE

Sebagai umat islam tentulah kita tidak asing dengan benda bernama Hajar Aswad. Hajar Aswad adalah sebuah batu berwarna hitam kemerahan yang terletak di dinding ka’bah di Mekah. Awalnya Hajar Aswad adalah bongkahan batu besar namun setelah terjadi penjarahan tahun 317 H, pada masa pemerintahan al-Qahir Billah Muhammad bin al-Mu’tadhid dengan cara dicongkel dari tempatnya, Hajar Aswad kini menjadi delapan bongkahan batu kecil saja.

Banyak sekali hal-hal menarik yang menyinggung batu hitam satu ini. Pada musim haji misalnya, para jamaah akan berebut untuk bisa mencium Hajar Aswad atau penemuan dari seorang astronot bernama Neil Amstrong yang menyatakan bahwa kota Mekah merupakan pusatnya planet bumi karena ada Hajar Aswad disana.

Lalu, apa sebenarnya Hajar Aswad dan mengapa para jamaah ingin sekali mencium batu ini? Lebih lengkapnya bisa disimak tentang sejarah Hajar Aswad dan msiteri dibalik batu hitam ini.

Asal Usul Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu rubi berbentuk bundar yang berwarna hitam dan berlubang. Batu ini terletak di sebelah tenggara Ka’bah dan sebelah kiri Multazam. Hajar Aswad memiliki tinggi sekitar 150 cm dan juga memiliki lingkaran selebar 30 cm dan garis tengah sekitar 30 cm yang lebih lebar dari wajah manusia sehingga orang yang ingin mencium batu ini bisa memasukkan mukanya ke lubang tersebut.

Meski awalnya Hajar Aswad memiliki diameter sebesar kurang lebih 30 cm, namun karena banyak peristiwa yang menimpanya, akhirnya hajar aswad yang sekarang ini hanya tersisa bongkahan kecil sebanyak 8 butir sebesar biji kurma yang dibingkai dengan bahan perak. Dalam bingkai tersebut tidak semuanya hajar aswad, butiran Hajar Aswad hanya tepat berada di tengah-tengah bingkai. Hajar Aswad inilah yang banyak disentuh dan dicium oleh jutaan umat Muslim dari seluruh Dunia

Disebutkan oleh Abu al-walid Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-azraki (M.224 H/837 M), seorang ahli sejarah dan penulis pertama sejarah Makah bahwa menurut banyak riwayat Hajar Aswad adalah satu-satunya batu yang diturunkan dari surga ke bumi. Antara lain riwayat dari Abdullah bin Umar bin Khatab menyebutkan bahwa Hajar Aswad adalah batu dari surga serta riwayat dari A’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Ka’ab bahwa Hajar Aswad dibawa turun oleh malaikat ke langit dunia. Hanya saja tidak jelas siapa yang meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah pertama kali, apakah nabi Adam atau malaikat.

Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan perak. Batu ini licin dan mengkilap karena terus menerus diusap, dikecup dan dicium oleh miliaran manusia sejak jaman nabi Adam yang datang ke Baitullah untuk beribadah haji dan umrah.

Hajar Aswad pada mulanya adalah batu yang berwarna putih seperti susu dan berkilau memancarkan sinar yang cemerlang. Dari Abdullah bin Amr bis As r.a (7 SH-65 H) perubahan warna Hajar Aswad menjadi hitam karena sentuhan orang musyrik. Riwayat lain yang serupa diungkapkan oleh Zubair bin Qais yang mengatakan bahwa Hajar Aswad adalah batu yang berasal dari surga yang dulunya berwarna putih berkilauan namun berubah menjadi hitam karena perbuatan keji dan kotor yang dilakukan oleh orang musyrik. Hanya saja kelak batu ini akan kembali berwarna putih sebagaimana sedia kala.

“Hajar aswad diturunkan dari surga, warnanya lebih putih dari susu, dan dosa-dosa anak cucu adamlah yang menjadikannya hitam,”sabda Rasulullah SAW (HR Tirmidzi)

Menurut riwayat Ibnu Abbas dan Abdullah bin Amr bin As dahulu Hajar Aswad tidak hanya berwarna putih namun juga memancarkan sinar yang berkilauan. Sekiranya Allah tidak memadamkan kilauannya maka tidak ada seorang pun yang sanggup memandangnya.

Ada juga sebuah hadis riwayat Imam Baihaqi dan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar.”

Hadis ini mengisyaratkan untuk membaca doa ketika hendak mengusap (istilam) dan melambainya pada permulaan tawaf atau pada setiap putaran sebagaimana hadis riwayat Ibnu Umar ra bahwa Nabi Muhammad ASW datang ke Ka’bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.

Sejarah Batu Hajar Aswad

Sebagaimana diketahui bahwa Ka’bah dibangun oleh nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail as. Ketika membangun Ka’bah pada mulanya Ka’bah tidak memiliki pintu, lalu nabi Ibrahim bersama Ismail mengangkut batu dari berbagai gunung. Setelah hampir selesai, nabi Ibrahim masih merasa ada kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Ka’bah. Beliau lalu menyuruh Nabi Ismail untuk mencari batu lagi untuk diletakkan di Ka’bah sekaligus untuk penanda bagi manusia.

Ismail pergi ke bukit satu dan bukit lainnya namun tidak menemukan batu yang paling baik. Ketika mencari di suatu bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril as dan memberikan sebuah batu yang cantik. Ismail segera membawa batu itu kepada nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim sangat gembira melihat batu itu karena sangat cantik dan berkilau sampai-sampai nabi Ibrahim menciumnya beberapa kali.

Kemudian nabi Ibrahim a.s bertanya, “Dari mana kah kau mendapat batu ini?” Ismail menjawab, “Batu ini aku dapat dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).” Nabi Ibrahim lalu mencium batu itu diikuti putranya, bahkan setelah sampai dekat Ka’bah batu itu tak kunjung diletakkan di tempatnya. Nabi Ibrahim dan Puteranya lalu menggotong batu itu dan memutari Ka’bah sebanyak 7 kali putaran.

Misteri Hajar Aswad yang Menggegerkan NASA

Hajar Aswad juga sempat menggegerkan pihak NASA, pasalnya salah seorang astronot bernama Neil Amstrong sempat mengambil gambar bumi dari luar angkasa. Ia mendapatkan gambar bumi menggantung pada area gelap.

Neil Amstrong adalah manusia pertama yang menjelajahi bulan dan mengambil foto bumi dari luar angkasa. Ia mendapatkan gambar bumi berada menggantung pada area gelap, dari sinilah misteri itu bermula. Pasalnya, hal ini telah menjadi penelitian para astronot sejak lama dan mereka menemukan bahwa ada sebuah radiasi yang terjadi pada planet bumi.

Melalui penelitian yang mendalam akhirnya para ilmuwan menemukan bahwa radiasi yang dimaksud berasal dari kota Mekah yang bersumber pada Ka’bah. Uniknya, radiasi tersebut masih terus ada dan tidak berujung bahkan ketika gambar diambil dari planet Mars sekalipun.

Setelah penelitian ini tersebar , para ilmuwan muslim berpendapat bahwa radiasi yang terjadi mempunyai karakteristik yang menghubungkan dunia akhirat dengan Ka’bah yang ada di planet bumi. Sehingga hal inilah yang menjadi penyebab Hajar Aswad mengejutkan pihak NASA.

Lalu hal lain yang berkaitan dengan area bernama Zero Magnetism Area yaitu area dimana saat kita menggunakan kompas pada daerah tersebut maka tidak akan berfungsi disebabkan ada daya tarik yang sangat kuat antara 2 kutub. Area ini terletak di tengah-tengah antara kutub utara dan selatan. Karena hal inilah orang yang tinggal di Makah lebih sehat dan berumur panjang. Para jamaah haji juga bisa merasakan energi misterius ketika mengelilingi Ka’bah yang terbukti secara ilmiah. Satu lagi, ternyata kota Mekah juga tidak dipengaruhi oleh gravitasi bumi.

Nabi Muhammad SAW dan Batu Hajar Aswad

Tahun 606 M, Ka’bah mengalami kebakaran sehingga perlu dibangun kembali, ketika itu Rasulullah berusia 35 tahun. Bersama kabilah-kabilah yang ada di Makkah, beliau membangun kembali Kabah. Ketika pembangunan selesai dan Hajar Aswad perlu dikembalikan lagi ke tempatnya, terjadilah perselisihan antara Kabilah-kabilah itu tentang siapa yang paling berhak meletakkan batu itu pada tempatnya. Maka Abu Umayyah bin Mughirah dari suku Makzum sebagai orang yang tertua mengusulkan bahwa yang paling berhak meletakan Hajar Aswad adalah orang yang memasuki pintu Safa keesokan harinya.

Ternyata yang memasuki pintu Safa pertama kali adalah nabi Muhammad yang waktu itu belum diangkat sebagai Rasul. Namun dengan keadilan dan kebijaksanannya, Nabi Muhammad tidak langsung mengangkat Hajr Aswad namun beiau melepaskan sorbannya lalu meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah sorban tersebut.

Beliau lalu meminta para ketua kabilah yang datang untuk memegang seluruh tepi surban dan bersama-sama mengangkat surban sampai ke tempat yang dekat dengan tempat diletakkannya Hajar Aswad lalu Nabi Muhammad sendiri yang memegang batu itu dan meletakkan di tempatnya.

Atas apa yang dilakukan oleh nabi Muhammad ini, tindakan beliau mendapat penilaian dan penghormatan yang besar dari kalangan kabilah yang berselisih paham saat itu. Hajar Aswad mulanya juga tidak dihiasi dengan lingkaran pita berwarna perak. Menurut Abu al-walid bin Muhammad al-azraki seorang ahli sejarah kelahiran Makkah, Abdullah bin Zubair adalah orang pertama yang memasang lingkaran pita di sekeliling Hajar Aswad dan menjadikannya lebih berkilat dan berkilau. Hal ini bertujuan untuk menjaga dan mengekalkan keutuhan Hajar Aswad.

Pada tahun 1268 H Sultan Abdul Majid khalifah Utsmaniyah (1225-1277 H) menghadiahkan sebuah lingkaran emas untuk dililitkan pada Hajar Aswad sebagai pengganti pita perak yang telah hilang. Lingkaran emas ini akhirnya diganti dengan lingkaran perak oleh Sultan Abdul Aziz, khalifah UTsmaniyah (1861-1878 H). Pada tahun 1331 H, atas perintah Sultan Muhammad Rasyad, memerintah tahun 1909-1918 H), lingkaran pita perak diganti dengan lingkaran peta perak yang baru.

Mencium dan Memegang Hajar Aswad Ketika Haji atau Umrah

Umar bin Khatab pernah menyampaikan bahwa Rasulullah pernah mencium Hajar Aswad, lalu ketika umrah Umar bin Khatab berada di dekat Hajar Aswad dan menciumnya sambil berkata: “Demi Allah, aku tau bahwa engkau hanya sebongkah batu. Seandainya aku tgidak melihat Rasulullah SAW menciumnya, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Hadist no.228 kitab Sahih Muslim).

Sampai saat ini Hajar Aswad dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa yang bertawaf di Ka’bah disunahkan untuk mencium Hajar Aswad dan bagi yang tidak bisa cukup dengan isyarat lambaian tangan. Apabila manusia mencium Hajar Aswad seolah-olah mencium ciuman nabi Ibrahim dan nabi Ismail.

Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan Abdullah bia Amir Ash mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Rukun (Hajar Aswad) dan makam (Batu/Makam Ibrahim) berasal dari batu rubi surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya.”

Hadist Siti Aisyah RA mengatakan sabda Rasulullah SAW, “Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat.”

Berdasarkan hadis ini setiap jamaah haji akan menjadikan Hajar Aswad sebagai target berburu. Hadis ini juga mengatakan bahwa hendaknya berdoa ketika mengusap atau melambaikan tangan ke Hajar Aswad. Sedangkan mencium Hajar Aswad sendiri tidak dapat diwakilkan.

Dari Humais bin Abi Sawiyah r.a, bahwa ia penah mendengar Ibnu Hisyam bertanya kepada Atho Ibnu Abi Ribbah r.a, ketika Atho sedang tawaf di baitullah. Atho meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a pernah mengatakan sabda Rasulullah SAW, “Bahwa disekitar Hajar Aswad ada 70 Malaikat dan jika seseorang (yang sedang tawaf) berdoa”Ya Allah berilah aku kebaikan didunia dan akhirat dan jauhkan aku dari siksa api neraka. Maka para malaikat itu akan mengamininya.”

Ketika sampai di Hajar Aswad, Ibnu Hisyam bertanya kembali, “Apa yang kau ketahui tentang Hajar Aswad ini?” Atho menjawab, bahwa Abu Huirairah pernah mengatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menyentuhnya, maka sebenarnya ia menyentuh tangan Ar –rahman (tangan Allah)” (HR. Ibnu Majah. Al-Mundziri mengatakan bahwa hadist ini di-Hasankan oleh sebagian ulama Tarmidzi.)

Hajar Aswad dan Pendapat Para Ilmuwan

Keberadaan Hajar Aswad sendiri ternyata menimbulkan pertanyaan besar bagi para ilmuwan. Mereka mendengar dan membaca bahwa Hajar Aswad memiliki keunikan yang tidak dimiliki batu lain. Bahkan umat Islam berebut untuk mencium dan memegangnya saat berada di Baitullah.

Ketika beberapa ilmuwan membaca tentang keutamaan-keutamaan dan keajaiban-kejaiban yang dimiliki Hajar Aswad, mereka mengira Hajar Aswad adalah batu biasa yang terbawa arus banjir dari daerah sekitar Mekkah. Untuk menguji hal ini, Asosiasi Geografi kerajaan inggris mengutus seseorang bernama Richard Francis Burton untuk mengunjungi Arab Saudi (Hijaz) dengan menyamar menjadi haji dari Afganistan pada pertengahan abad ke-19 (1853 M/1269 H)

Richard F Burton ternyata berhasil mencuri pecahan Hajar Aswad lalu membawanya ke Inggris. Setelah dilakukan penelitian, Hajar Aswad bukan termasuk bebatuan bumi, melainkan batu langit/luar angksa yang menyerupai meteor. Hajar Aswad memiliki komposisi kimiawi dan mineral tersendiri yang berbeda dari meteor. Penelitian ini menjadikan Richard Burton memeluk islam. Kisahnya ini ia tulis dalam bentuk buku dengan berjudul Rihlah ila Makkah (A Journey to Mecca).

Komposisi kimiawi yang berbeda dari batu bumi menjadikan Hajar Aswad oleh beberapa geolog dikategorikan sebagai batu meteorit. Misalnya oleh seorang geolog bernama Prior-Hey yang mempublikasikan Catalog Of Meteorities (1953) selama bertahun-tahun. Prior-Hey menganggap bahwa Hajar Aswad adalah batu meteor, sehingga turut dimasukkan kedalam katalognya.

Angapan Prior-Hey berasal dari pendapat Kahn, seorang geolog lainnya, yang pada tahun 1936 berpendapat bahwa Hajar Aswad adalah batu meteor aerloit, yaitu meteor yang tersusun dari senyawa-senyawa penyusun batuan dan tidak didominasi oleh besi dan nikel yang berlimpah seperti meteor besi pada umumnya.

Pendapat lain diangkat oleh Elsebeth Thomsen, seorang geolog dari swedia pada tahun 1980. Thomsen menggunakan pendekatan tak langsung, yakni dengan menegakkan dugaan bahwa Hajar Aswad kemungkinan besar merupakan batuan yang dibentuk akibat suatu proses tumbukan benda langit. Yaitu proses jatuhnya meteorit besar dengan kecepatan sangat tinggi sehingga diikuti pelepasan energy yang sangat besar, sehingga menyamai kuantitas energy yang dilepaskan dalam peristiwa ledakan nuklir.

Beberapa penelitian diatas memiliki kesamaan bahwa Hajar Aswad berbeda dan memang unik. Komposisinya tidak menyerupai batu yang ada di bumi sehingga dikategorikan sebagai meteorit. Meski demikian batu ini tetap berbeda jika dibandingkan dengan batu-batu meteorit lainnya.

Para pakar lain berteori bahwa Hajar Aswad merupakan batu yang dapat mengambang di air dan merupakan batu paling tua yang ada di dunia. Inggris mengkonfirmasi bahwa mereka memiliki potongan batu dari Ka’bah yang tersimpan di museum Inggris. Ketika ditanya, pihak museum mengatakan bahwa batu tersebut bukan batu yang berasal dari bumi kita.

Perjalanan Hajar Aswad

  • 1859-1820 SM: Nabi Ibrahim a.s meletakan Hajar Aswad di Ka’bah ketika membangun Ka’bah
  • 400 M: Amr bin Harits bin Madhah al-Jurhum memasukkan ke dalam sumur Zam-Zam. Ditahun yang sama, Qushay bin Kilab (kakek keliam Rasulullah SAW) meletakan kembali Hajar Aswad ke Ka’bah.
  • 606 M: Banjir merusak Ka’bah
  • 180 H: Abdullah bin Zubair memasang lingkaran pita perak disekeliling Hajar Aswad
  • 7 dzulhijjah 317 H: Abu tahir Al-Qurmuthi menvopot Hajar Aswad
  • 10 Dzulhijjah 339 H: : Hajar Aswad dikembalilkan ketempat asalnya
  • 363 H: seorang laki-laki dari bani Fatimiyyah memecahkan Hajar Aswad
  • 990 h: seorang laki-laki asing memukul Hajar Aswad
  • 1268 H: Sultan Abdul Majid mengganti lingkaran emas Hajar aswad menjadi lingkaran perak.
  • Muharram 1351 H: Seorang laki-laki asal Afganistan mencungkil pecahan Hajar Aswad dan mencuri potongan kain Kiswah Ka’bah.
  • 28 Rabiul Akhir 1351 H: Raja Abdul Aziz bin Abdur Rahman as-saud merekatkan kembali Hajar Aswad yang telah pecah dan memberinya lingkaran perak disekelilingnya.

sejarah hajar aswad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here